WARTA | EKONOMI

Jelang Seminar Internasional, STP TRISAKTI Gelar Sarasehan Pengembangan Pangan Lokal Berbasis Sagu

SKIH / ISTIMEWA

Jelang Seminar Internasional, STP TRISAKTI Gelar Sarasehan Pengembangan Pangan Lokal Berbasis Sagu


 


Bagi sebagian masyarakat Indonesia, khususnya Indonesia bagian timur, bahan makanan Sagu merupakan bahan makanan pokok yang menjadi makanan keseharian mereka, dan tidak sedikit juga masyarakat Indonesia bagian tengah maupun barat, bahan Sagu juga cukup dikenal karena taksedikit kue kering maupun basah yang di buat dari bahan pokok tegung Sagu, untuk itu Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti (STP Trisakti) juga terus mengembangkan aneka jenis makanan pokok maupun kue-kue dengan bahan dasar tepung Sagu. Dan bertempat di Aula Kampus STP Trisakti, telah digelar Sarasehan Pengembangan Pangan Lokal Berbasis Sagu, yang dihadiri sejumlah Kepala Daerah dan Kepala Dinas dari Kabupaten penghasil Sagu.



Disela acara sarasehan, Ketua STP Trisakti, Fetty Asmaniati, SE,MM menjelaskan, bahwa Sarasehan Pengembangan Pangan Lokal Berbasis Sagu ini digelar sangat luar biasa, karena disambut baik oleh 6 Kabupaten penghasil Sagu di Indonesia, bahkan perusahaan industri tepung sagu juga telah membangun komitmen untuk mengembangkan industrinya di daerah penghasil sagu, khususnya di Indonesia wilayah timur, dan STP Trisakti sebagai lembaga pendidikan tinggi juga mendukung penuh untuk terus mengembangkan makanan berbahan dasar tepung Sagu, hari ini sangat laur biasa karena ketiga lembaga yaitu Pemerintah, Industri dan Dunia Pendidikan Tinggi telah sepakat mengembangkan pangan lokal berbasis Sagu.



Pangan berbahan Sagu sengaja kita angkat sehari menjelang Seminar Internasional, hal ini karena kita ingin mengangkat produk makanan lokal berbahan dasar Sagu, dahulu makanan berbahan dasar Sagu hanya beberapa jenis menu saja, namun dengan tantangan untuk mengembangkan makanan berbahan dasar Sagu kini telah bisa kita kembangkan inovasi dan kreasinya, sehingga kedepan diharapkan makanan berbahan sagu bisa mendunia serta mengangkat bangsa ini demi NKRI, ungkap Fetti Asmaniati, SE,MM.



Hal yang sama juga diungkapkan Pengurus Harian STP Trisakti, Drs I Gusti Putu Laksaguna, CH, MSi bahwa dengan kegiatan Sarasehan ini, perlu upaya maksimal, bagaimana mengenalkan pangan lokal yang terbuat dari sagu ini, agar nantinya bisa di sajikan dilingkungan hotel-hotel di Indonesia, dan melalui kajian-kajian akademis yang baik di STP Trisakti, nantinya menu-menu dari bahan dasar Sagu bisa diterima di Kancah internasional, saya yakin hal ini bisa terlaksana, ini akan menjadi tantangan bagi STP Trisakti agar Makanan dari bahan Sagu bisa diterima secara nasional maupun internasional, harapnya.



Sementara dalam Sarasehan, Kepala Departemen S1 dan S2 STP Trisakti Dr Sapta Rini Wulan menjelaskan, bahwa Sagu adalah tanaman asli Indonesia yang tumbuh dari Sabang sampai Merauke dengan potensi yang sangat besar, namun hingga saat ini pengolahan sagu maupun produk makanan olahannya masih sangat terbatas dan belum dikelola dengan baik, untuk itu Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti (STP Trisakti) hari ini menggelar Sarasehan, guna mengajak seluruh pemerintah daerah untuk bersama-sama mengembangkan pangan berbahan dasar Sagu.



Kita juga bersyukur, acara ini bisa dihadiri 6 Kepala Daerah Kabupaten maupun Dinas terkait, yang memiliki potensi Sagu yaitu, Meranti, Sangier, Halmahera Tengah, Pasang Kayu dan Halmahera Tengah, bahkan juga Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Perkebunan serta Dinas Pariwisata. karena potensi Sagu khususnya di daerah Indonesia bagian timur yaitu di Papua Maluku dan Sulawesi, pengembangan potensi lokal Sagu tersebut belum maksimal, dimana potensinya mencapai 6 juta hektar dengan produktivitas antara 150 hingga 300kg per-pohon, bahkan Pohon Sagu yang tumbuh di hutan liar mampu menghasilkan 800Kg pati kering perpohon, ini suatu anugerah Tuhan bagi masyarakat Indonesia yang luar biasa.
Sapta Rini juga mengaku bahwa Pohon Sagu juga merupakan tanaman yang tahan terhadap hama, tidak terpengaruh oleh kemarau maupun banjir, tanaman ini juga tidak perlu dirawah secara khusus seperti di pupuk, namun dapat tumbut alami tahan terhadap cuaca, namun demikian hingga saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal, mesti penghasil terbesar di Papua dan Sulawesi namun produktivitas yang besar justru di Kabupaten Meranti, Provinsi Riau, inilah dengan Sarasehan ini diharapkan daerah-daerah yang memiliki potensi tanaman Sagu dapat mengembangkan potensi tersebut, saya yakin semua daerah telah mengembangkannya baik areal tanaman Sagu, maupun pengolahan tepung sagu dan kulinernya, apalagi Kabupaten Meranti telah memperoleh penghargaan Rekor MURI yang telah mengembangkan hingga 600 jenis makanan, inilah kita ingin berbagi untuk pengembangan sagu, kita ingin sharing dan STP Trisakti akan mendorong pemanfaatan Tepung Sagu dalam olahan produk kuliner nasional maupun internasional, papar Sapta Rini. (Pry).

Penulis: Priyono
Editor: Priyono

Now Trending