WARTA | PENDIDIKAN

Tingkatkan Pelayanan, Keluarga Besar Yayasan Trisakti Gelar Halal Bihalal

SKIH / ISTIMEWA

Tingkatkan Pelayanan, Keluarga Besar Yayasan Trisakti Gelar Halal Bihalal

Dalam tradisi Halal Bihalal bagi masyarakat Indonesia di hari Raya Idul Fitri adalah saling mengunjungi dan saling meminta maaf dan ini sebagai wujud Silaturahim, dan inti Silaturahim adalah Kasih Sayang, bukan kebencian, bukan intoleran. Jadi yang pertama adalah ucapan yang baik dan kedua adalah berbuat baik serta saling mendoakan, sehingga kita memperoleh berkah dan nikmat dari Allah SWT, hal tersebut diungkapkan Ustadz Drs. H Edi Agus Susilo, SE, MTr Staf Ahli Menteri Perhubungan yang juga Dosen Pasca Sarjana ITL Trisakti dalam tausiah dalam acara Halal Bihalal Keluarga Besar Yayasan Trisakti di Aula Kampus Institut Trasnportasi dan Logistik Trisakti Jakarta.

Ketua Kopertis Wilayah III Jakarta, DR Illah Saillah juga menegaskan, bahwa kita telah menyelesaikan ibadah Ramadhan, dan untuk agar dikabulkan maka kita meminta maaf satu sama lain, kita telah memasuki diklat 1 bulan maka kita diharapkan telah memperoleh pelajaran yaitu disiplin, komunikasi maupun silaturahmi, serta maaf memaafkan seperti saat usai tarawih kita saling memaafkan, bagi ibu-ibu sudah memberikan pelayanan terbaik buat keluarga, ini diharapkan dapat juga dilakukan pada 11 bulan kemudian, paparnya.

Disamping itu Kopertis Wilayah III Jakarta juga akan terus memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat, dimana saat ini telah dilakukan pelayanan digital secara online, sehingga akan mempermudah lembaga pendidikan tinggi maupun para dosen untuk melakukan akreditasi, dalam kesempatan ini Kopertis Wilayah III Jakarta juga ingin berterimakasih pada ITL Trisakti maupun Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti yang akan mengirimkan Mahasiswanya untuk mengikuti KKN Nasional ke Serawak, ini bukti respon yang cepat karena dilakukan setelah 2 hari di informasikan secara online, tegas Illah Saillah.

Sementara Ketua Yayasan Trisakti Dr. Djanadi Bimo Prakoso.MSi, disela Halal Bihalal pada Wartawan juga menegaskan, bahwa Yayasan Trisakti berharap pada seluruh Civitas Sekolah Tinggi dibawah Yayasan Trisakti serta Institut Transportasi dan Logistik Trisakti untuk terus melakukan evaluasi kinerja untuk mencapai kinerja maupun pelayanan yang terbaik.

Kita bersyukur Akreditasi Prodi di Sekolah Tinggi maupun ITL Trisakti memperoleh Akreditasi “A”, ini adalah status tertinggi yang harus dipertahankan, dan yang masih B harus terus ditingkatkan statusnya, demikian juga tingkat kedisiplinan serta etos kerja harus benar-benar kerja keras dan disiplin, berbakti pada bangsa dan negara, ngak usah protes, kalau ada masalah harus secepatnya diselesaikan dengan baik, kerja yang baik dan ikuti aturan yang ada, sehingga para alumni juga mereka yang mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional, mereka harus mampu memimpin dan bukan dipimpin, ini sebagaimana cita-cita Bung Karno melalui Trisakti, dan dukungan Yayasan juga sangat dibutuhkan dalam peningkatan sarana Gedung, untuk menampung pertukaran mahasiswa luar negeri, kita boleh bekerjasama dan belajar ke mana saja, tetapi tetap Indonesia, tegas Dr Bimo Prakoso.

Sementara Ketua Dewan Pembina Yayasan Trisakti, Harry Tjan Silalahi juga mengungkapkan, bahwa Halal Bihalal identik dengan Indonesia, dan sudah menjadi tradisi serta budaya masyarakat Indonesia.

Pada seluruh pimpinan lembaga pendidikan tinggi, baik Sekolah Tinggi dibawah Yayasan Trisakti maupun Institut Transportasi dan Logistik Trisakti, Harry Tjan Silalahi juga menekankan, bahwa disamping menghasilkan tenaga ahli sesuai bidang program pendidikan masing-masing, tetapi juga menekankan akan perlunya mencetak generasi penerus bangsa yang berkarakter Indonesia, sehingga nantinya meskipun di kasih pakaian apa saja, dicentelin apa saja, namun tetap berjiwa dan berhati Indonesia, namun kalau tidak, setinggi langitpun bisa ambruk, untuk itu saya selalu menekankan perlunya penanaman mental dan sikap untuk membangun generasi berkarekter, yaitu Pancasila, tegasnya.

Lebih jauh Tokoh Pergerakan 66 ini menegaskan, bahwa Pancasila tidak boleh di kaji melalui filsafat barat maupun negara lain, namun harus di gali dari bumi Indonesia, dan sumbernya juga ada di Indonesia, dan itu harus dicari, sebab Pancasila kalau diringkas menjadi Eka Sila, yaitu “Gotong-Royong”.

Harry Tjan Silalahi melihat bahwa saat ini Gotong-Royong sudah mulai dilupakan, semua mengarah pada efisiensi, praktis serta menjadi kapitalis, padahal yang dibutuhkan masyarakat adalah gotong-royong, berbagi satu sama lain, punya tanggungjawab terhadap nusa dan bangsa, sehingga akan melahirkan kekuatan besar, yaitu Persatuan dan Kesatuan bangsa, untuk itu Yayasan Trisakti juga selalu menekankan nilai Kegotong-royongan dilingkungan Lembaga Pendidikan Trisakti, kita mengapresiasi pada seluruh civitas Institut Transportasi dan Logistik Trisakti serta seluruh Sekolah Tinggi yang telah bekerja keras dengan prestasi yang baik, ungkapnya. (Pry).

Penulis: Priyono
Editor: Priyono

Now Trending