WARTA | LIPUTAN KHUSUS

Pangdam IV : Tanamkan Sikap Toleransi Dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara

SKIH / ISTIMEWA

Pangdam IV : Tanamkan Sikap Toleransi Dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara

Semarang. Indonesia adalah bangsa yang besar dengan kompleksitas suku, agama, ras dan golongan, akan tetapi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hendaknya senantiasa menjalin hubungan yang baik tanpa memandang latar belakang dan perbedaan yang ada.

Hal tersebut disampaikan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi, S.E., M.M. melalui sambutan tertulis yang dibacakan Kasdam Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa, S.E., M.M. pada acara pembinaan mental rohani Islam prajurit dan PNS Makodam, usai upacara bendera bulanan di Masjid Al Firdaus Komplek Makodam IV/Diponegoro, Rabu (17/7/19).

Lebih lanjut disampaikan, bahwa Allah SWT telah menjelaskan dalam Al Quran surat Al-Hujurot ayat 13 yang artinya “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling taqwa diantara kamu”.

Menurutnya, dengan saling mengenal maka akan tumbuh rasa kasih saying yang akan mewujudkan jalinan silaturahmi antar sesama sehingga akan menumbuhkan kerukunan dan ketentraman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sementara itu, KH. Drs. Fahrurozi, M.Ag. selaku penceramah menerangkan, manusia diciptakan berbeda-beda, ada laki-laki, ada perempuan, ada suku jawa, sunda, madura dan sebagainya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dari sini maka sangatlah tepat jikalau pembinaan rohani kali ini mengambil tema “Toleransi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan Bernegara”.

Dijelaskan KH. Fahrurozi, sikap saling pengertian bisa dimulai dari kehidupan rumah tangga. Suami dan istri pada dasarnya memiliki berbagai perbedaan dan karakter yang harus saling dimengerti dan dipahami agar kehidupan rumah tangga selalu harmonis.

Dicontohkan Kyai yang juga Dosen UIN Walisongo Semarang itu, bila suami memahami dan mengerti kekukurangan dan kelebihan istri dan sebaliknya, maka keluarga tersebut akan tenteram. Tetapi bila menggunakan kekurangan dan kelebihan untuk saling menjatuhkan, maka keluarga akan berantakan.

“Perbedaan itu untuk dimengerti dan dinikmati bukan untuk saling mencaci, saling membenci atau bahkan saling menjatuhkan”, tandasnya.

Diibaratkan dalam sholat berjamaah, dalam satu baris saja bisa terdapat jamaah yang berbeda tata cara sholatnya. Karena posisinya, jamaah juga sering saling senggol baik dengan jamaah yang di depan, belakang, kanan atau kirinya. Namun karena masing-masing bisa mengerti dan memahami bahwa tujuan mereka sama-sama mengharap ridha Allah SWT maka sholatpun dapat berjalan tertib dan lancar.

“Dalam sholat berjamaah semua saling mengerti, saling memahami dan saling menghormati, dan itulah wujud toleransi”, imbuhnya.

Bahkan karena begitu pentingnya toleransi, Allah SWT memberikan kemudahan kepada umatnya untuk tidak melakukan beberapa hal yang wajib dengan mengganti perbuatan sosial. Contohnya seorang ibu yang sedang hamil tidak diwajibkan berpuasa tetapi dapat menggantinya dengan membayar fidiyah, imbuhnya.

Tapi sayangnya justru manusia sering mengabaikan sikap toleran dalam kehidupan sosial, padahal perbuatan itu tidak bisa digantikan dengan beribadah kepada Tuhan, ungkap KH. Fahrurozi.

"Kesalahan dari mencaci orang tidak bisa dihapus dengan sholat duha, tetapi harus dengan meminta maaf kepada orang yang dicaci", tegasnya.

Begitu pentingnya toleransi, dirinya berharap sikap toleransi dapat ditumbuhkembangkan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari keluarga, masyarakat, bangsa dan negara agar tercipta suasana yang tenteram, aman, nyaman dan damai.

Bangsa Indonesia baru saja selesai menyelenggarakan pesta demokrasi, dan secara konstitusioal sudah diputuskan siapa pemenangnya. Bila semua pihak menyadari walaupun berbeda pilihan, beda barisan dan beda posisi tetapi memiliki tujuan yang sama untuk membangun NKRI, maka Indonesia kedepan akan menjadi negara yang bersatu, berdaulat, adil, makmur, aman dan sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pedahulu bangsa, pungkasnya.

Ikut dalam kegiatan Binroh Islam, para Pejabat Utama, Pa Liaison dan Kepala Badan Pelaksana (Kabalak) Satuan jajaran Kodam IV/Diponegoro. Selain pembinaan mental rohani Islam, juga dilaksanakan pembinaan rohani Kristen Protestan, Katolik dan Hindu yang dilaksanakan di Ajendam dan Bintaldam IV/Diponegoro.

Penulis: Priyono
Editor: Priyono

Now Trending