WARTA | NASIONAL

ITL Trisakti Gandeng ICAT dan UN Environment Kaji Kebijakan Transportasi dan Efek Polusi Udara

SKIH / ISTIMEWA

ITL Trisakti Gandeng ICAT dan UN Environment Kaji Kebijakan Transportasi dan Efek Polusi Udara

Udara adalah faktor penting dalam kehidupan, namun, di era modern, sejalan dengan perkembangan pembangunan transportasi, telah menyebabkan kualitas udara mengalami perubahan, dari yang mulanya segar, kini dinilai kotor akibat dari terjadinya pencemaran udara karena transportasi. Dan sektor Transportasi dinilai berkontribusi besar dalam pencemaran udara, untuk itu Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan tingkat pencemaran udara hingga 29%, dan untuk mendukung program tersebut, Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan RI, telah menunjuk Institut Transportasi dan Logistik Trisakti (ITL Trisakti) bersama Dirjen Perhubungan Darat serta didukung Initiative for Climate Action Transpatency (ICAT) Jerman serta UN Environment untuk melakukan kajian dan penelitian guna menurunkan pencemaran udara yang disebabkan oleh polusi Udara kendaraan serta efek Rumah Kaca.

Rektor ITL Trisakti, Dr Tjuk Sukardiman juga menambahkan, bahwa pihaknya bersyukur ITLTrisakti telah ditunjuk Kementerian Perhubungan RI bersama Dirjen Perhubungan Darat dan ICAT serta UN Environment, untuk melakukan penelitian dampak polusi udara serta dampak rumah kaca, karena ITL Trisakti telah memiliki komitmen dalam mendukung transportasi efisiensi energi, ketepatan waktu dan enregi bersih.

ITL Trisakti memiliki Icon dalam studinya yaitu the Integrated and Sustainability Transportation and Logistics System, artinya akademisi ITL Trisakti sangat konsen dengan penyelenggaraan transportasi efisien, tetapi dilain pihak kalau bicara trasportasi berbicara kecepatan, dan berbicara kecepatan dan ketepatan berarti berbicara keperluan energi, namun bagaimana akademisi ITL Trisakti juga bisa menjaga kondisi lingkungan hidup dan efisien energi, oleh karena itu sebagaimana ajakan ICAT untuk menjaga lingkungan, ITL Trisakti sangat mendukung hal tersebut.

Topik FGD hari ini akan kita jadikan acuan bagi para dosen dan mahasiwa untuk melakukan penelitian-penelitiannya dan tugas dalam studinya maupun para dosen untuk beban kerja dosen yang harus dicapai, tegas Dr Tjuk Sukardiman.

Ketua Tim Kajian A Prizing Polecy ITL Trisakti - UNICAT, Dr Elly A.Sinaga juga menegaskan, bahwa kegiatan FGD ini juga sebagai tindak lanjut dari ITL Trisakti yang telah memperoleh mandat dari Badan Litbang Kementerian Perhubungan, untuk terus bekerjasama joint risert dengan PBB bidang Lingkungan yaitu ICAT, kita hari ini akan melakuan kajian dan penelitian dibidang transportasi, khususnya tentang kebijakan-kebijakan pemerintah dan dampaknya terhadap emisi, karena Indonesia sudah berkomitmen menurunkan pencemaran udara hingga 29%.

Kita melihat bahwa saat ini ada subsidi bahan bakar untuk diesel, khususnya bagi kendaraan truk, bagaimana subsidi yang nilainya seribu rupiah per-liter ini bisa dicabut, sehingga jumlah truk bisa dikurangi serta angkutan barang bisa beralih ke angkutan laut, sehingga pencemaran udara juga bisa dikurangi, ungkapnya.

Disamping itu Pemerintah saat ini juga telah memberikan kebijakan terhadap kendaraan Low Cost Green Car (LCDC) dengan pajak kendaraan yang rendah, ini telah berdampak pada penurunan gas buang, disamping itu dengan kebijakan kendaraan listrik, juga harus diperhitungkan penghasil listrik tersebut, apakah masih besar dalam penggunaan pembakaran batubara serta Gas alam yang juga dari Fosil, ini juga harus diperhitungkan, untuk itu kita mendorong PLN untuk memanfaatkan Energi Baru Terbarukan, seperti tenaga Matahari maupun Angin, sehingga menghasilkan 2 kali lipat lebih bagus, pintanya.

Hal senada juga diungkapkan Dirjen Hubdar, Budi Setiadi, bahwa pemerintah terus mendorong atau menyempurnakan terhadap regulasi yang sudah dibuat sebagai pelengkap dari Perpres 55, bahwa kementerian terkait agar bisa menyempurnakan/ membreakdown apa-apa yang menjadi amanat di dalam Perpres 55 tersebut, bagaima hal itu bisa segera direalisasikan, karena ada berapa Peraturan Menteri turunan, sebagai pelaksanaan dan sebagai implementasi terhadap filosofis dari Peraturan Presiden nomor 55, karena memang harus ada insentif yang harus diberikan kepada baik pabrikannya maupun kepada penggunanya, tetapi kalau mungkin yang paling penting sebenernya ditunggu adalah insentif yang dari kementerian keuangan.

Dengan penyempurnaan terhadap regulasi yang ada, sehingga jadi lengkap dan kemudian maksut pemerintah untuk mendorong pabrikannya maupun penggunanya itu bisa lebih baik, kemudian untuk mendukung Keinginan kita bersama, dan kemudian kita juga bagaimana menyampaikan pesan pada masyarakat, bahwa Kendaraan yang kita pakai sekarang ini, harus memakai bahan bakar euro 4, dan mari kita tinggalkan motor yang menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil, karena bahan bakar dari fosil akan berdampak buruk pada kualitas udara maupun dampak pada kesehatan kita seperti HISPA, untuk itu jika kita masih menggunakan bahan bakar dari Fosil maka harus berstandar euro 4.

Untuk itu pemerintah dan seluruh komponen masyarakat harus sadar dan agar mendorong penggunaan kendaraan bermotor berbahan bakar non fosil, seperti kendaraan listrik ini, dan sebagai bentuk komitmen ini Dirjen Perhubungan Darah secara bertahap aman mengganti kendaraan-kendaraan di Kementerian Perhubungan dengan kendaraan listrik, papar Budi Setiadi.

Juerg Fuesseler Pimpinan Studi Transport dari ICAT juga menegakan, bahwa kehadirannya di kampus ITL Trisakti sebagai uapaya membantu mengatasi masalah transportasi di beberapa negara di dunia, sebagaimana VISI ICAT, dimana permasalahan transportasi di kota-kota besar butuh penataan yang baik, bagaimana kita bisa mengubah sistem transportasi melalui langkah-langkah yang bisa dilakukan, seperti penggantian kendaraan berbahan bakar dari fosil, menuju kendaraan berbahan bakar listrik.

Saat ini kendaraan dengan mesih disel juga turut berkontribusi besar dalam pencemaran udara, untuk itu masyarakat pengguna transportasi khususnya barang yang menggunakan disel, perlu dimotivasi dan di dorong agar mau beralih ke energi listrik, dan ICAT bersedia hadir dan bekerjasama jika negara Indonesia memiliki banyak sumber listrik, dan kami sangat mendukung jika sumber energi listrik memakai sumber dari Energi Terbarukan, seperti energi Matahari, Angin serta yang lain, untuk mengurangi emisi, tegas Juerg Fuesseler.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Hariyanto, bahwa terkait dengan transportasi, Dirjen Energi Baru Terbarukan telah mengambil kebijakan khususnya dalam pemberlakuan biodiesel atau yang sering kita sebut B20 atau B30, dimana saat ini sedang dicoba B30 bagaimana kita mencampur 30% bahan bakar nabati dengan bahan bakar diesel 70%, dan kita harapkan ditahun 2020 kita sudah menerapkan bahan bakar B30 untuk mesin Diesel, kalau kita evaluasi dari hasil penerapan B20 yang sudah berlangsung, kita bisa menghemat devisa negara cukup signifikan, karena sekitar penerapannya mungkin sekitar 8 sampai 10 juta kilo liter, bisa menghemat impor BBM, seperti kita ketahui bahwa penggunaan BBM kita adalah sebesar 1,6 juta barel, dan sekitar 50%-nya dipenuhi dari impor, sehingga kalau kita menggunakan bahan bakar B20 atau nantinya B30, maka ini akan menghemat devisa untuk impor BBM.

Untuk transportasi Kereta Ali kita juga mendorong agar PT KAI mengembangkan Kereta Rel Listrik (KRL) dan mengurangi penggunaan Kereta Rel Diesel (KRD), sehingga penggunaan sarana publik menjadi efisien, dan kita mendorong gerbong KRL rangkainnya ditambah, agar lebih efisien, tegasnya. (Pry)

Penulis: Priyono
Editor: Priyono

Now Trending