WARTA | PROFIL

Ahmad Zaki Desertasi Metode Internalisasi Sebuah Inovasi Kurikulum PAI Berbasis Multikultural

SKIH / ISTIMEWA

Ahmad Zaki Paparkan Desertasi Metode Internalisasi Sebuah Inovasi Kurikulum PAI Berbasis Multikultural

Setelah berhasil mempertahankan desertasi dengan tema “Metode Internalisasi Sebuah Inovasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural”, didepan Tim Penguji melalui Sidang Terbuka Senat Universitas Islam Jakarta (UIJ) Dalam agenda tunggal Sidang Promosi Doktor Pendidikan Agama Islam, dengan penguji Prof Raihan, Prof Dede Rosyada, Prof Aziz Fachurozi, serta Dr Sutardjo Admowidjoyo, M,Pd dengan Promotor Prof Zainun Kamal,MA dan Dr Attabik Lutfi, MA. Akhirnya Mahasiswa S3 UIJ, Ahmad Zaki, berhasil meraih gelar Doktor Pendidikan Agama Islam.

Beberapa pertanyaan, sanggahan, kritikan hingga saran-saran yang bertubi-tubi dari Tim Penguji, membuat Promovendus Ahmad Zaki harus mampu menyajikan hasil desertasi dan mempertahankan isi disertasi dihadapan tim penguji, kadang Promovendus Ahmad Zaki terkadang terlihat tegang dan berfikir lama, hingga diselingi suasana gurauan yang lucu, namun akhirnya terjawab dengan baik, hingga usai sekors untuk memberikan kesempatan tim penguji menentukan hasil, hingga calon Doktor dinyatakan lulus, sehingga Ahmad Zaki dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Doktor Pendidikan Agama Islam dari Universitas Islam Jakarta, dan diberi ucapan selamat oleh Tim Penguji, Keluarga hingga tamu undangan lainnya.

Rektor Universitas Islam Jakarta, yang juga Ketua Tim Penguji, Prof Raihan usai menguji Promovendus pada wartawan menjelaskan, bahwa UIJ bersyukur hari ini kembali meluluskan Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam yang ke 5, dimana Dr Ahmad Zaki merupakan mahasiswa angkatan pertama yang mampu menyelesaikan tepat waktu, dan akan kita Wisuda Desember mandatang bersama Wisudawan Magister maupun Sarjana S1.

Kita mengapresiasi Ahmad Zaki dengan desertasinya yang mengangkat tema "Inovasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural". Melalui pemikirannya tentang Inovasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam berbasis multikultural, dimana dalam penelitiannya sebagai seorang doktor selalu ada pembaruan, dan kita berharap hasil penelitian yang bagus ini bisa disambut baik oleh pemerintah, karena sangat sayang kalau hasil penelitian dan nilai pemikiran intelektual tidak dimanfaatkan secara baik.dimana kita lihat bahwa multikultural itu adalah masalah kemanusiaan, dimana masalah kemanusiaan ini tidak bisa diselesaikan dengan hanya satu cara, namun untuk merawat keragaman sekaligus kedamaian yang dibutuhkan di dunia pendidikan Indonesia.

Sebagaimana dalam disertasinya dijelaskan tentang bagaimana metode penerapan nilai-nilai multikultural dalam pembelajarannya serta Bagaimana strategi pengembangan budaya multikultural di sekolah, terutama Sekolah Menengah Atas. Jadi kalau saya lihat beliau sudah membuat salah satu metode internalisasi yang berbasis multikultural untuk diterapkan nanti, ada contoh-contohnya dari mulai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sampai kepada tujuan pembelajaran dan evaluasinya serta Bagaimana pelaksanaannya, jadi kalau ini disambut baik oleh dunia pendidikan, pertama mungkin kurikulum yang berkaitan dengan Pendidikan Agama Islam ini sangat membantu kita untuk mendidik siswa-siswi yang nantinya tidak terlalu berpikir radikal dan lain sebagainya, seperti apa yang sekarang terjadi. kebetulan saudara Zaki ini 4 tahun angkatan pertama bersama temannya yang sudah diwisuda tahun lalu itu tepat waktu, jadi beliau kalau sudah S3 itu tentunya dalam penelitiannya ada pembaruan nilai-nilai, pembaruan inovasi sesuai dengan bidangnya masing-masing, papar Prof Raihan.

Sementara dalam Desertasi Promovendus Ahmad Zaki dengan tema "Inovasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural". Mengaku bahwa Desertasi tersebut dibuat dengan melakukan Penelitian dan pengamatan di Sekolah Menengah Atas,sebagai perpaduan antara Pendidikan Agama Islam dengan Budi Pekerti, seperti Sikap Spiritual dalam menghayati dan mengamalkan ajaran Agama yang dianut, dengan Sikap Sosial (Perilaku jujur, disiplin, bertanggungjawab, toleran, peduli dan gotong-royong), serta Kempetensi pengetahuan Iptek dan Imtaq maupun Ketrampilan dalam mengolah, nalar dan penyajian secara mandiri sesuai kaidah keilmuan.

Penelitian juga dilatarbelakangi dengan dasar letak geografis kepulauan nusantara yang telah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang penuh dengan multicultural, dimana didalamnya terdapat aneka budaya, etnis yang besar, Unik dengan daya tarik kekayaan sumber daya alam maupun budaya yang melimpah.

Keragaman ini pada satu sisi merupakan kekuatan bangsa, namun disisi lain berpotensi terjadinya konflik karena belum adanya kesadaran pluralisme dan masih adanya fanatisme ajaran agama, di mana kesadaran pluralisme tersebut sangat berbeda dengan tekad Sumpah Pemuda, "Berbangsa Satu Bangsa Indonesia, Bertumpah Darah Satu Tanah Air Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia.

Seiring dengan perjalanan waktu berbangsa dan bernegara, tantangan Kebhinekaan terus mengalami cobaan yang tidak mudah untuk diatasi, jika tidak bahu-membahu sesama elemen bangsa untuk mencari solusinya. Untuk itu kondisi pluralitas dan kebhinekaan yang terus mengalami cobaan dengan berbagai variasinya, maka salah satu alternatif adalah memberikan kesadaran multikultural untuk menghidupkan kembali pemikiran masyarakat agar dapat mempertahankan Khasanah keindonesiaan dalam memahami dan menghargai perbedaan. Dan pendidikan multikultural adalah pendidikan untuk merespon terhadap perkembangan keragaman populasi di sekolah.

Kurikulum Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural dapat dilihat dari perbedaan potensi peserta didik yang beraneka ragam untuk dikembangkan oleh guru dalam mendampingi mereka menghidupkan potensi tersebut maka perbedaan dengan semangat kedaerahan, keragaman potensi peserta didik dan target pencapaiannya yang berbeda menjadi praktek pendidikan yang anti diskriminasi, sekaligus membebaskan bagi daerah masing-masing. Multikulturalisme merupakan sebuah konsep pembudayaan yang dapat dilakukan melalui dunia pendidikan, pembudayaan tersebut sebagai nilai-nilai keadaban yang telah menjadi warisan bangsa ini, seperti toleransi dan tulus dalam keanekaragaman, cara hidup saling menghormati, sehingga dapat melenturkan mental bangsa dalam menghadapi konflik sosial yang meretakkan persatuan bangsa.

Pendidikan agama Islam disamping memasukkan nilai dan moral terdiri dari aspek aqidah, akhlak, sejarah, fiqih Al-Quran, juga diharapkan bisa menginternalisasi nilai-nilai proses pembelajaran dan menjadi kultur budaya di sekolah, serta berorientasi dalam masalah kebangsaan seperti disintegrasi, konflik komunal, isu suku, agama, ras, antar golongan, selain persoalan dogmatis, seperti masalah aqidah dan fiqih, ibadah, karena agama merupakan bagian dari sumber hukum di Indonesia dan di perlukan untuk menjaga keutuhan dan keragaman bangsa. (Red)

Penulis: Priyono
Editor: Priyono

Now Trending