WARTA | PENDIDIKAN

Hari Guru Nasional, Pemerintah Tidak Perlu Buru-buru Dalam Perubahan Penyiapan SDM

SKIH / ISTIMEWA

Hari Guru Nasional, Pemerintah Tidak Perlu Buru-buru Dalam Perubahan Penyiapan SDM

Program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dalam upaya melakukan perubahan-perubahan dibidang pendidikan, kini menimbulkan pro-kontra dikalangan pendidikan itu sendiri, apalagi Kemendikbud akan menghapus pendidikan bahasa Inggris untuk siswa SMP dan SMA, serta mengalihkan mata pelajaran bahasa Inggris hanya ditingkat dasar (SD), belum lagi investasi pendidikan yang juga dibuka bagi investor asing dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia, agar lulusan bisa bersaing di bursa kerja internasional.

Rektor Unindra, Prof H Sumaryoto, saat ditemui Media di ruang kerjanya menegaskan, bahwa Perubahan-perubahan di dunia pendidikan tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi harus gradual dan terprogram, tidak seperti produk suatu barang bisa dirangcang kemudian di produksi, langsung kelihatan hasilnya, Mendikbud yang saat ini menangani pendidikan usia dini hingga pendidikan tinggi, harus turun ke bawah melihat permasalahan-permasalahan serta menyerap aspirasi para guru dan dosen, sehingga kebijakan nantinya tepat sasaran, terukur dan jelas arahnya.

Kita semua tau bahwa dari Sarana prasarana pendidikan saja masih banyak yang tidak layak, bukan saja di luar jawa, di wilayah Jawa saja masih banyak yang kekurangan guru maupun kelas, belum lagi kesejahteraan guru yang jauh dari hidup layak, masih banyak guru honor yang belum di angkat, serta fasilitas pendidikan yang masih minim, dalam membuat kebijakan dan perubahan-perubahan, sebaiknya dilakukan kajian mendalam, sebaiknya tidak usah terburu-buru, harapnya.

Dalam menyiapkan Sumber Daya Manusia, sebaiknya Pemerintah menyiapkan untuk kebutuhan dalam negeri saja, tidak usah berfikir terlalu jauh bersaing dengan negara lain, karena kalau kita lihat seperti tenaga kerja India saja mereka mau dibayar murah dengan kualitas pendidikan tinggi, jadi sebaiknya bagaimana Pemerintah bisa menyiapkan SDM untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, baik untuk badan usaha maupun inudustri yang ada di Indonesia, kita tidak perlu mendatangkan tenaga kerja asing, Pendidikan Vokasi/Diploma (Non Gelar) harus ditingkatkan guna melakukan Link and Mach dengan industri, Kolaborasi Pendidikan dengan dunia industri harus difasilitasi. Dimana pendidikan Vokasi untuk menyiapkan praktisi bukan ilmuan, yang akan mengisi pekerjaan di industri nantinya, dan kerangka serta mekanisme hubungan industri dengan pendidikan tinggi juga harus diatur dengan baik, dunia industri jangan hanya mengejar keuntungan belaka, tetapi juga harus punya tanggungjawab sosial, khususnya peningkatan SDM Karyawan, tegasnya.

Saat disinggung rencana Mendikbud menghapus Mata Pelajaran Bahasa Inggris di tingkat SMP dan SMA serta hanya akan diajarkan ditingkat Sekolah Dasar, menurut Prof Sumaryoto jika benar maka kebijakan tersebut kurang tepat, karena pendidikan di SD dengan SMP dan SMA/K berbeda, dimana pendidikan SD adalah pendidikan dasar, sementara Pendidikan Bahasa Inggris adalah Pendidikan Mata Pelajaran, demikian juga guru SD adalah Guru Kelas, sementara Guru SMP, SMA adalah guru bidang studi, kalau anak SD harus mampu menguasai Percakapan dan Grammar maka akan menyulitkan dalam pendidikan dasar. Belum lagi guru bahasa Inggris SMP dan SMA yang tidak lagi mengajar, maka harus ada mutasi mengajar bahasa Inggris SD.

Dalam Kurikulum berarti juga harus dirubah, mulai tingkat dasar hingga menengah atas, demikian juga pendidikan tinggi PGSD, ini sangat komplek, karena bahasa bukan sekedar percakapan tetapi juga pembelajarannya, untuk SD dan SMP lebih pada pembelajaran Pedagogik, dan SMA/K pada pembelajaran Andragogik, dalam merubah kurikulum seperti itu tidak mudah, dan tidak bisa dengan cepat, tegas Prof Sumaryoto. (Pry).

Penulis: Priyono
Editor: Priyono

Now Trending