WARTA | PENDIDIKAN

Setelah 17 tahun Berkonflik, Universitas Trisakti Kembali Bersatu Ke Yayasan Trisakti

SKIH / ISTIMEWA

Setelah 17 tahun Berkonflik, Universitas Trisakti Kembali Bersatu Ke Yayasan Trisakti

Ungkapan Syukur atas penyatuan kembali seluruh Perguruan Tinggi dibawah Yayasan Trisakti, digelar bersama tepat pada peringatan HUT ke 54 tahun Yayasan Trisakti, di Bollroom Hotel JW Marriott Jakarta, pada Senin 27 Januari 2020. Sehingga Sengketa Pengelolaan Universitas Trisakti dengan Yayasan Trisakti telah berakhir, Dasar hukum penyatuan kembali adalah Amar Putusan Mahkamah Agung (MA) bernomor 410K/PDT/2004 yang diperkuat dengan putusan Peninjauan Kembali (PK) MA Nomor 575PK/PDT/2011, telah memperkuat putusan yang sudah berketetapan hukum (inkracht), dan segera dimulai langkah baru untuk bersama demi kepentingan bangsa dan negara dalam menyiapkan Sumber Daya Manusia yang Unggul, berkompetensi transformasional dan berkarekter Nasionalis.

Acara Syukuran tersebut dihadiri Ketua Dewan Pembina Yayasan Trisakti, Dr Harry Tjan Silalahi, Ketua Yayasan Trisakti, Dr Bimo Prakoso bersama seluruh Dewan Pengawan Yayasan, serta hadir Rektor Universitas Trisakti, Prof. Dr Ali Ghufron Mukti, M.Sc, PhD serta para Wakil Rektor Universitas Trisakti, juga Rektor Institute Transportasi dan Logisitk Trisakti, Dr Tjuk Sukardiman dan para Wakil Rektor ITL Trisakti, serta seluruh Ketua dan Wakil Ketua, Sekolah Tinggi dibawah Yayasan Trisakti, diantaranya Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, Fetty Asmaniati, SE,MM, Ketua Trisakti School of Management/STIE Trisakti, Arya Pradipta, SE, Ak, ME,CA, Ketua Trisakti School of Multimedia, Budi Suyanto, S.Sn, M.Si dan Ketua Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi Trisakti, Ir. Ariyanti Suliyanto, MM, CRMP. Serta seluruh Wakil Ketua Sekolah Tinggi dibawah Yayasan Trisakti.

Rektor Universitas Trisakti, Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc, Ph.D disela acara Syukuran HUT Yayasan Trisakti tersebut pada Wartawan menjelaskan, bahwa selama ini dari Universitas Trisakti juga telah berupaya untuk Rekonsiliasi dengan Yayasan Trisakti, setelah sekian lama tidak bisa menyelesaikan perbedaan, namun kami bersyukur sekarang ini kemudian kita bisa bersatu, jadi dengan demikian bergabungnya Universitas Trisakti pada Yayasan Trisakti, ini merupakan satu komitmen dan upaya kita bersama-sama, sehingga kita ingin semuanya ini betul-betul ada Win-win solution dan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Surat Kesepahaman bersama sudah ditandatangani pada Desember 2019 lalu, jika ada yang belum lengkap bisa dilengkapi, kemudian kita tentukan nanti, dibentuk semacam "Kelompok Kerja", ada dari Yayasan Trisakti, ada dari Universitas Trisakti serta ada dari Pemerintah. itu sudah sudah disepakati langkah-langkahnya, dan berikutnya tentu sebagaimana disampaikan di dalam nota kesepahaman itu, untuk segera kita selesaikan masalah hal-hal yang perlu secara detail dilanjutkan, umpamanya untuk semacam tata kelola, kelembagaannya secara lebih detail, itu akan dibicarakan secara bersama-sama, tapi yang jelas komitmen dan niat bersama untuk kita berjalan bersama-sama, ke depan Kami optimis Universitas Trisakti dan seluruh perguruan tinggi dibawah Yayasan Trisakti akan berkembang lebih baik, tegas Prof Ali Ghufron Mukti.

Sementara Pendiri Yayasan Trisakti yang juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Trisakti, Dr Harry Tjan Silalahi, juga mengatakan, bahwa dirinya yang diserahi Bung Karno untuk mengorganisir untuk tetap berlangsungnya pendidikan di Universitas Trisakti, dan kini tinggal satu-satunya pendiri, berharap agar Universitas Trisakti mampu mendidik Sumber Daya Manusia di Indonesia yang Unggul berkarakter Nasionalis.

Kalau dalam perjalanannya timbul kekisruhan masalah yuridis, karena ada anak yang nakal ingin menguasai keuangan, itu hanya karena yang bersangkutan lupa terhadap "Trisakti", bahwa sebenarnya lembaga pendidikan tinggi ini adalah Nirlaba, bukan komoditas yang diperjual belikan, melainkan "Pengorbanan" yang harus diberikan, dimana sebagai seorang pendidik harus bisa melaksanakan apa yang sudah diletakkan 3 dasar-dasar pendidikan oleh Ki Hajar Dewantara.

Yang pertama Ing Ngarsa Sung Tuladha, yang artinya didepan harus bisa memberi contoh, yang kedua Ing Madya Mangun Karsa, artinya ditengah memberi semangat, yang harus bisa memberi inisiatif/ memotivasi, dan yang ketiga adalah Tut Wuri Handayani, artinya di belakang memberikan daya kekuatan, atau memberi dukungan. Yang mau maju Monggo kita beri jalan untuk kemajuan. Syukur Alhamdulillah hari ini Universitas itu sudah mulai ada perubahan, serta sudah mulai mengakui bahwa "Babon" pendidikan swasta yang terbesar di Indonesia tersebut adalah Yayasan Trisakti.

Karena anggota yayasannya dan lain-lainnya adalah orang-orang yang "bermoral", dan Trisakti adalah investasi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, tidak ada pemilik perorangan, kalau saya mati saya sekarang Pembina, ya itu sudah selesai, tidak ini di turun-temurunkan sebagai organisasi dagang, itu saya kira ini nanti kita rayakan karena kita mau mangayubagyo, mudah-mudahan Setapak demi setapak bisa kembali pada asal kodratnya Trisakti, yang dasarnya sudah di tancapkan Bung Karno, yaitu Trisakti, bahwa bangsa Indonesia harus di dalam persatuan dan kesatuan, serta dilandasi oleh Sumpah Pemuda, dan saya sudah Handayani, ungkap Dr. Harry Tjan Silalahi.

Ketua Yayasan Trisakti, Dr Bimo Prakoso juga menambahkan, bahwa sebagaimana tema HUT Yayasan Trisakti ke 54 ini, "Bersatu Kita Kuat", jadi seluruh Perguruan Tinggi dibawah Yayasan Trisakti harus bersatu untuk berjuang bersama, menuju kearah yang lebih baik, sebagaimana yang diungkapkan Dewan Pembina Yayasan Trisakti, Bapak Harry Tjan Silalahi, kita bersyukur konflik sudah berakhir, mari kita maju bersama mewujudkan cita-cita Trisakti, yaitu Berdaulat dalam Politik, Berdikasi di bidang Ekonomi dan Berkepribadian dalam Kebudayaan, kita semua harus mampu mewujudkan negara yang berdaulat, adil dan makmur, sebagaimana cita-cita Pendiri Bangsa Indonesia serta Pendiri Yayasan Trisakti, tegasnya.

Ditempat yang sama, Ketua IKAL LEMHANNAS RI serta Ketua Umum PEPABRI yang juga Keluarga Besar Yayasan Trisakti, Jendral TNI (Purn) Dr. (HC) Agum Gumelar, M.Sc juga menegaskan, bahwa Yayasan Trisakti dengan 1 Universitas, 1 Institut serta 4 Sekolah Tinggi hingga saat ini merupakan Lembaga Pendidikan Tinggi terbesar di Indonesia, dan dengan ulang tahun yang ke 54 ini, saya yakin kedepan menjadi lebih "Kredibel" dalam mengantisipasi suasana kekinian, serta mampu menghadapi persaingan yang keras, Ketat dan tinggi di era persaingan global saat ini. Jadi harapan saya, bawa ke depan ini, seluruh lembaga pendidikan tinggi yang ada di di Yayasan Trisakti ini, bisa menelurkan serta menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang berdaya saing, mampu menciptakan daya saing bangsa, Karena eranya era persaingan, disamping itu saya juga sangat menekankan serta berharap, Yayasan Trisakti bisa juga menekankan kepada anak didik kita, agar supaya disamping Cerdas dan Unggul, juga Berwawasan Kebangsaan, Berjiwa/Bersemangat nasionalisme.

Karena salah satu syarat sebuah bangsa ini akan menjadi Bangsa yang besar, adalah adanya jiwa semangat nasionalisme dan rasa cinta, rasa bangga, rasa ingin berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara. serta mengedepankan kepentingan Bangsa dan Negara.

Pada seluruh Civitas Pendidikan Tinggi Trisakti kedepan, disamping orientasi mengembangkan mutu pendidikan yang menghasilkan manusia-manusia Indonesian berdaya saing, harus juga menghasilkan manusia-manusia yang berjiwa/berwawasan kebangsaan.

Menganggapi kebersamaan yang kembali terbangun antara Universitas Trisakti dengan Yayasan Trisakti, menurut saya kedua-duanya juga ke arah sama, ingin menciptakan manusia-manusia unggul dan berjiwa kebangsaan, dengan jiwa dan semangat yang sama, saya yakin bisa kembali bersatu untuk kepentingan yang lebih besar berdasarkan ralitas yang benar, ungkap Agum Gumelar. (Pry).

Penulis: Priyono
Editor: Priyono

Now Trending