WARTA | PENDIDIKAN

Kebebasan Pengelolaan Perguruan Tinggi Sudah Ada, Kampus Merdeka Perlu Pengawasan Dalam Pelaksanaan

SKIH / ISTIMEWA

Kebebasan Pengelolaan Perguruan Tinggi Sudah Ada, Kampus Merdeka Perlu Pengawasan Dalam Pelaksanaan

Berbagai kebijakan setiap pergantian menteri Pendidikan selalu berbeda, demikian juga Mendikbud yang saat ini diamanahkan kepada Menteri Nadiem Makarim yang kembali mengeluarkan kebijakan baru, khusus menyangkut pengelolaan Perguruan Tinggi, atau yang lebih dikenal dengan Kampus Merdeka, khususnya menyangkut bidang Pembukaan Prodi Baru, Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi, Badan Hukum serta Hak Mahasiswa belajar di luar kampus serta belajar diluar prodi yang sedang berjalan.

Menyangkut kemudahan pembukaan prodi, menurutnya hal tersebut tidak berbeda jauh dengan rencana pembentukan Lembaga Akreditasi Mandiri, dimana kebijakan tersebut tidak berbeda jauh, hanya sekarang program tersebut diganti dengan istilah Kampus Merdeka, dimana dosen tidak seperti Guru, dosen tidak lagi mendikte, hanya jadi fasilitator jadi sebenarnya kemerdekaan dalam belajar dan mengajar itu dari dulu sudah ada, hanya istilahnya saja yang diganti.

Kalau saat ini ada wacana belajar diluar prodi itu sebenarnya tidak semudah itu, karena harus dilihat juga apakah prodi yang diambil relevan dengan yang saat ini dipelajari, adakah unsur serumpun, prodinya status akreditasinya harus sama, karena tidak mungkin dari Akreditasi C kemudian mau masuk ke A, lintas prodi tersebut perlu pertimbangan, dan pihak perguruan tinggi juga punya hak untuk menolaknya.

Menanggapi akan kebijakan re-akreditasi, Prof Sumaryoto melihat bahwa evaluasi prodi harus tetap dilakukan, kalau tidak dilakukan bagaimana unsur kendali, karena hal tersebut bagian dari pengawasan dan pembinaan, saat ini dengan aturan re-Akreditasi saja masih banyak masalah, bagaimana kalau tidak diadakan evaluasi ulang, bisa jadi masalah yang lebih besar, tegasnya.

Kelonggaran dalam pengelolaan perguruan tinggi sebenarnya sudah ada dari dulu, seperti dalam kurikulum saat ini sudah diberikan kelonggaran, ada kurikulum nasional namun ada kurikulum lokal, sehingga mata kuliah kadang berbeda, seperti mata kuliah Agama di Unindra 2 SKS, namun di kampus lain cukup 1 SKS, penyesuaian muatan lokal diberi kebebasan, jadi ini tidak masalah, karena hakekatnya secara harkiki kebebasan itu sudah ada, karena mahasiswa memang sudah punya nalar tinggi, sudah dewasa jadi tinggal bagaimana pelaksanaanya, tegas Prof Sumaryoto.

Istilah "Merdeka" itu sendiri seharusnya di persepsikan dengan benar, kalau merdeka dalam arti belajar dan mengajar dari dulu sudah ada, kebijakan tersebut tidak boleh sembarangan, harus jelas dan terstruktur, jangan sampai belajar sebebas-bebasnya, karena ini menyangkut tanggungjawab secara ilmiah, dan bagaimana kompetensinya, jadi jangan diartikan Merdeka itu sebebas-bebasnya. Dalam pelaksanaan 4 kebijakan tersebut harus konsistem antara penyelenggara perguruan tinggi maupun pemangku kebijakan, aturan sebagai referensi harus jelas dan diatur pelaksanaannya, harus ada standarnya, karena kampus bisa menafsirkan secara berbeda-beda sehingga hasilnya juga berbeda, jadi yang harus diperhatikan nantinya adalah unsur pelaksanaannya, tambahnya.

Saat diminta tanggapan akan permohonan DPRRI agar Publikasi Jurnal Internasional di hapus, Prof Sumaryoto mengaku hal tersebut sebaiknya dikembalika seperti dulu, yaitu publikasi jurnal nasional, karena Perguruan Tinggi di Indonesia tidak bisa disamakan atau dibandingkan dengan Perguruan tinggi luar, yang sudah berdiri ratusan tahun, publikasi internasional gratis itu tidak mungkin, karena pada kenyataannya kalau bicara internasional maka akan berbiaya tinggi, bahkan antriannya juga lama, jadi kalau mau diatur ulang sebaiknya dikembalikan seperti dulu, yaitu Jurnal dalam negeri, kita jangan dipacu dengan perguruan tinggi di negara luar yang sudah lama merdeka, sudah mapan, kita harus mengukur diri, jangan hanya untuk mengejar target tertentu, karena banyak faktor, tegas Prof Sumaryoto. (Pry).

Penulis: Priyono
Editor: Priyono

Now Trending