KABAR | LIPUTAN KHUSUS

Warga RT 8 Malaka Jaya Uji Model Eco EduFarm Indonesia untuk Ketahanan Pangan dan Energi

SKIH / ISTIMEWA

Warga RT 8 Malaka Jaya Uji Model Eco EduFarm Indonesia untuk Ketahanan Pangan dan Energi

Jakarta - Gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di RT 8 Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, terus berkembang menjadi model komunitas yang mengintegrasikan pengelolaan sampah, produksi pangan, hingga ketahanan energi. Tokoh publik Irfan Hakim belum lama ini berkunjung ke kawasan tersebut dan menyerahkan Tong Komposter Ksatria Nusantara kepada warga sebagai bagian dari gerakan pengolahan sampah rumah tangga.

Sebanyak 60 unit komposter digunakan warga untuk mengolah sampah organik langsung dari rumah, sehingga tidak lagi menjadi beban lingkungan yang harus dibuang ke TPST Bantar Gebang. Dengan komposter tersebut, setiap rumah dapat mengolah hingga sekitar 55 kilogram sampah organik dalam satu siklus, meningkat dari kapasitas sebelumnya sekitar 26,5 kilogram.

Gerakan pengomposan ini tidak hanya dilakukan oleh warga RT 8. Komposter juga diserahkan kepada wilayah sekitar, yakni RT 7 RW 4 Malaka Jaya, RT 10 RW 4 Malaka Jaya, serta RT 6 RW 5 Malaka Jaya, sehingga gerakan pengelolaan sampah mulai berkembang menjadi gerakan kawasan.


Ketua RT 8 RW 4 Malaka Jaya, Dr. Taufiq Supriadi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari penerapan Model Eco EduFarm Indonesia, sebuah sistem terpadu berbasis ekonomi sirkular yang mengintegrasikan pengelolaan sampah, produksi pangan komunitas, serta ketahanan energi lingkungan.  Model tersebut bahkan telah memperoleh pencatatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum Republik Indonesia.

“Untuk kawasan yang memiliki lahan luas seperti pesantren atau wilayah pedesaan, Eco EduFarm dapat dijalankan secara terpadu. Namun di wilayah padat penduduk seperti Jakarta, konsep ini kami terjemahkan dalam skala rumah tangga, sehingga sampah bisa selesai di rumah dan memiliki nilai guna dalam ekonomi sirkular warga,” ujar Taufiq.

Selain komposter, warga juga mengembangkan berbagai inovasi lingkungan seperti lubang resapan biopori, kolam budidaya ikan di saluran U-ditch, serta edukasi lingkungan bagi anak-anak dan masyarakat. Kegiatan ini juga mulai memberikan dampak sosial. Hingga saat ini sedikitnya 6 warga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan kini terlibat dalam kegiatan pengelolaan lingkungan dan produksi komunitas.

Selain itu, lebih dari 1.000 pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia telah datang ke kawasan tersebut untuk belajar mengenai praktik pengelolaan lingkungan berbasis komunitas. Dalam pengembangannya ke depan, RT 8 juga merencanakan pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunitas serta pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk memperkuat ketahanan energi dan sanitasi lingkungan.

Menurut Taufiq, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun ketahanan komunitas terhadap berbagai potensi krisis lingkungan di masa depan. “Jika setiap lingkungan kecil dapat mengolah sampahnya sendiri, memproduksi sebagian pangannya, dan memanfaatkan energi terbarukan, maka ketahanan lingkungan Indonesia sebenarnya bisa dimulai dari tingkat komunitas,” ujarnya.

Gerakan yang dimulai dari sebuah lingkungan kecil di Jakarta Timur ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk mengembangkan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.

Penulis: Priyono
Editor: Priyono

Now Trending