TATAG-TETEG-TUTUG : Jalan Laku Seorang Jawa
Oleh : KP Norman Hadinegoro SE.MM
(Pembina suratkabarindonesiahebat.com )
Dalam pandangan hidup orang Jawa, ada tiga pilar yang menjadi kompas batin ketika manusia melangkah di tengah riuhnya kehidupan, yaitu tatag, teteg, tutug. Tiga kata sederhana ini bukan sekadar petuah, tetapi fondasi laku yang membentuk karakter sejati.
1. Tatag
Tatag adalah keberanian yang tumbuh dari dalam diri, bukan sekadar gagah berani, tapi keteguhan hati yang tidak mudah runtuh. Hidup selalu penuh ujian; godaan, kesulitan, dan cemoohan datang silih berganti. Maka seorang yang tatag berdiri tegak meski angin hidup menghantam.
Contoh laku: Berani mengambil risiko, tidak gentar menghadapi kemungkinan gagal, tetap berjalan meski dihina, diuji, atau diruntuhkan keadaan.
2. Teteg
Jika tatag adalah keberanian memulai, maka teteg adalah kekuatan untuk tetap teguh. Ia berbicara tentang konsistensi, tentang kesetiaan pada prinsip, tentang langkah yang tidak mundur meski godaan datang dari segala arah.
Contoh laku: Tidak goyah meski dibujuk atau ditekan, tetap memegang nilai kejujuran, kebenaran, dan prinsip hidup meski konsekuensinya berat.
3. Tutug
Puncak dari dua laku sebelumnya adalah tutug, yaitu kemampuan menuntaskan apa yang telah dimulai. Dalam falsafah Jawa, pekerjaan yang hanya dimulai tetapi tidak diselesaikan dianggap kehilangan ruh. Menyudahinya dengan baik adalah bentuk penghormatan pada diri sendiri dan tanggung jawab kepada sesama.
Contoh laku: Menyelesaikan pendidikan, menepati janji, merampungkan tugas hingga benar-benar tuntas.
Makna Utuh : Jalan Hidup yang Paripurna
Tatag, teteg, tutug mengajarkan satu rangkaian kesungguhan :
1. Berani memulai — dengan hati yang mantap.
2. Teguh menjalaninya — tanpa tergoyahkan keadaan.
3. Tuntas menyelesaikan — hingga mencapai tujuan yang dicita-citakan.
Inilah tiga landasan yang membentuk manusia Jawa sejati, yaitu pribadi yang berani, ajeg, dan bertanggung jawab. Sebuah laku hidup yang tak hanya membawa keteguhan batin, tetapi juga mengantar manusia menuju ketentraman, kematangan, dan kesempurnaan diri.
| Penulis | : Priyono |
| Editor | : Priyono |